Kamis, 25 September 2014

REALITA


     “Kak, kalo nanti udah besar nanti kakak mau jadi apa?” pertanyaan itu yang pernah terlontar dari sosok yang memang sangat dekat denganku. Dialah kakekku. Sejak kecil kakekku begitu dekat denganku. Kakek yang begitu perasa, baik, dan penuh perhatian. Selama di dekatnya aku merasakan kehangatan. Bukan aku membandingkan hanya saja aku merasa bahagia saatku dengannya. “Nanti kalo udah gede, kakak mau jadi dokter. Biar bisa ngobatin kakek kalo sakit.” Jawabku polos. Dan kakek hanya tersenyum sembari mengelus kepalaku. Dan aku ikut tersenyum. Senyuman polosku.

                Tetesan waktu berjatuhan begitu cepat, tak terasa kini ku beranjak menjadi pemuda. Pemuda yang masih butuh sosok kakek. Kakek yang selalu menjadi benteng dari kerasnya pergaulan. Dia yang selalu menjadi wadah cerita-ceritaku. Namun perubahan waktu membuatku menjadi sedikit tertutup pada kakek. Ada beberapa hal yang tak ku ceritakan padanya. Kini tawaku pun tak sepolos dahulu. Aku yang sekarang bukan seperti anak kecil yang dulu selalu ada di pangkuan kakek.  Bahkan kini untuk meluangkan satu menitpun berat rasanya, aku terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan sekolahku. Mungkin kakek tahu akan perubahanku, namun dia diam saja.
            Sesekali aku menjengkuk kakek yang memang tak sekokoh dahulu. Satu hal yang tak pernah pudar darinya, senyum hangat saat menyambutku. Senyuman yang selalu saja membuat aku nyaman. Dan entah kenapa aku seperti kembali pada masa itu, masa saatku sebagai anak kecil. Aku diajaknya bermain ke tempat yang memang sejak dulu aku sukai. Aku seolah mengenang semua memori yang telah lampau. Terkadang aku tersenyum sendiri bila jatuh pada kenangan itu.



Tak peduli bagaimanapun keadaannya, dia selalu menemaniku bermain, dia selalu ada pada saat aku membutuhkannya. Memang dia sayap yang selalu merebahkan kasih sayang. Kadang satu tanya terbesit dalam hati, adakah aku bisa membalas setiap tetes kasih sayangnya? Dan entah kapan itu akan terwujud. Kalau aku boleh meminta, aku ingin membalas semua kasihmu, kek. Ujar batinku. Dan itu hanya ada dalam fantasiku saja, mana mungkin hadir dalam realita. “Kek, kakak mau pulang dulu ya?” aku pamit pada kakek. “Kakak nggak nginep aja? Nemenin kakek.” Tawarnya. Jujur aku ingin menemani kakek, meski untuk semalam. Namun, aku tidak bisa. Maaf kek.
            Seminggu berlalu sejak pertemuan terakhirku dengan kakek, aku belum pernah menjenguk kakekku lagi. Lalu dia dilarikan ke Rumah Sakit karena keadaannya yang memburuk. Sedih, sungguh sangat sedih mengetahui bahwa kakekku yang selalu menjadi sosok yang kuat dihadapanku, sekarang terbaring dengan lemah dirumah sakit. Tapi, walau seperti itu dia tidak pernah mengeluh kesakitan. Pun di saatku menjemputnya, dia selalu tersenyum. Senyum hangatnya selalu menghiasi wajahnya. “kek, cepat sembuh ya.. kakak kangen.” Ucapku penuh dengan harapan. “Insya Allah, kakek pasti sembuh kak.” Balasnya dengan suara yang pelan.
                Lima hari berlalu, keadaannya pun terus berangsur-angsur membaik. Lalu diijinkannya oleh dokter untuk pulang pada hari itu. Sungguh aku sangat bahagia mendengar kabar bahwa kakekku sudah sehat kembali. Banyak keluarga menjenguknya setelah setibanya dirumah, akupun ada disitu untuk menjenguknya. Hari demi hari terlewati, keadaannya terus membaik. Lalu aku dan adik-adikku memutuskan untuk menginap dirumah kakekku, kakek dan nenek pun senang karena cucunya mau menginap dirumahnya. Lalu pada sore itu tiba tiba tanteku menelepon nenekku dan menanyakan kabar kakekku, maklum rumahnya yang sangat jauh membuat dia tak bisa datang untuk menjenguk langsung.
“Bu, gimana kabar bapak?” setelah terlontar kata itu dari tante, adik ku yang paling kecil tiba tiba berteriak “kakek! Kok gak bangun-bangun?” aku pun terkejut, aku pun langsung menghampiri kamar kakekku. Dan aku pun dihadapkan kepada realita yang sangat pahit, kakek ku telah tiada. Orang yang penyayang, penuh dengan senyuman yang tulus itu sekarang telah tiada. Air mata membasahi mukaku. “Ya Allah, kenapa sekarang? Kenapa kau merenggut nyawa kakekku ya Allah? Aku tak siap, sungguh ku tak siap dengan semua ini.”
Terbelenggu ku dalam trauma yang mendalam. Untuk sesaat, ku tak bisa menerima kematian kakekku yang sangat tiba-tiba ini, aku kehilangan satu sosok yang selalu menjadi sayap pelindungku. Kakek, kenapa kakek pergi? Apa kakek sudah tidak mau bercanda dengan kakak lagi? Apa kakek sudak tidak mau menemui kakak lagi? Apa kakek marah sama kakak, karena kakak jarang menjenguk kakek? Batinku bertanya, dan terus menghujani pertanyaan pada nisan yang kini menindih jasad kakekku. Ketidakpercayaanku sempat membuatku marah akan suratan hidup, kenapa harus ada perpisahan bila itu hanya akan membuat kita bersedih? Kenapa?  Sampai sudah tak kuasa aku berkata dan hanya kesedihan yang jadi perantara. Kasihmu yang belum sempat ku balas, kini seolah masih bersandar dalam diriku. Aku adalah cucumu, cucu yang selalu ingin mengatakan bahwa betapa aku menyayangimu kek. Kakek yang menjadi panutanku, kakek yang selalu menyayangiku. Selamat tinggal kek, semoga kakek tersenyum bahagia disana, terima kasih untuk segalanya. Sampai jumpa kek.



Oleh : Januar Cikal Rahmat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar