“Kak, kalo nanti udah besar nanti
kakak mau jadi apa?” pertanyaan itu yang pernah terlontar dari sosok yang
memang sangat dekat denganku. Dialah kakekku. Sejak kecil kakekku begitu dekat
denganku. Kakek yang begitu perasa, baik, dan penuh perhatian. Selama di dekatnya
aku merasakan kehangatan. Bukan aku membandingkan hanya saja aku merasa bahagia
saatku dengannya. “Nanti kalo udah gede, kakak mau jadi dokter. Biar bisa
ngobatin kakek kalo sakit.” Jawabku polos. Dan kakek hanya tersenyum sembari
mengelus kepalaku. Dan aku ikut tersenyum. Senyuman polosku.
Tetesan waktu berjatuhan begitu
cepat, tak terasa kini ku beranjak menjadi pemuda. Pemuda yang masih butuh
sosok kakek. Kakek yang selalu menjadi benteng dari kerasnya pergaulan. Dia
yang selalu menjadi wadah cerita-ceritaku. Namun perubahan waktu membuatku
menjadi sedikit tertutup pada kakek. Ada beberapa hal yang tak ku ceritakan
padanya. Kini tawaku pun tak sepolos dahulu. Aku yang sekarang bukan seperti
anak kecil yang dulu selalu ada di pangkuan kakek. Bahkan kini untuk meluangkan satu menitpun
berat rasanya, aku terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan sekolahku. Mungkin
kakek tahu akan perubahanku, namun dia diam saja.
Seminggu berlalu sejak pertemuan
terakhirku dengan kakek, aku belum pernah menjenguk kakekku lagi. Lalu dia
dilarikan ke Rumah Sakit karena keadaannya yang memburuk. Sedih, sungguh sangat
sedih mengetahui bahwa kakekku yang selalu menjadi sosok yang kuat dihadapanku,
sekarang terbaring dengan lemah dirumah sakit. Tapi, walau seperti itu dia
tidak pernah mengeluh kesakitan. Pun di saatku menjemputnya, dia selalu
tersenyum. Senyum hangatnya selalu menghiasi wajahnya. “kek, cepat sembuh ya..
kakak kangen.” Ucapku penuh dengan harapan. “Insya Allah, kakek pasti sembuh
kak.” Balasnya dengan suara yang pelan.
Lima hari berlalu, keadaannya pun
terus berangsur-angsur membaik. Lalu diijinkannya oleh dokter untuk pulang pada
hari itu. Sungguh aku sangat bahagia mendengar kabar bahwa kakekku sudah sehat
kembali. Banyak keluarga menjenguknya setelah setibanya dirumah, akupun ada
disitu untuk menjenguknya. Hari demi hari terlewati, keadaannya terus membaik.
Lalu aku dan adik-adikku memutuskan untuk menginap dirumah kakekku, kakek dan
nenek pun senang karena cucunya mau menginap dirumahnya. Lalu pada sore itu
tiba tiba tanteku menelepon nenekku dan menanyakan kabar kakekku, maklum
rumahnya yang sangat jauh membuat dia tak bisa datang untuk menjenguk langsung.
Terbelenggu
ku dalam trauma yang mendalam. Untuk sesaat, ku tak bisa menerima kematian
kakekku yang sangat tiba-tiba ini, aku kehilangan satu sosok yang selalu
menjadi sayap pelindungku. Kakek, kenapa kakek pergi? Apa kakek sudah tidak mau
bercanda dengan kakak lagi? Apa kakek sudak tidak mau menemui kakak lagi? Apa
kakek marah sama kakak, karena kakak jarang menjenguk kakek? Batinku bertanya,
dan terus menghujani pertanyaan pada nisan yang kini menindih jasad kakekku.
Ketidakpercayaanku sempat membuatku marah akan suratan hidup, kenapa harus ada
perpisahan bila itu hanya akan membuat kita bersedih? Kenapa? Sampai sudah tak kuasa aku berkata dan hanya
kesedihan yang jadi perantara. Kasihmu yang belum sempat ku balas, kini seolah
masih bersandar dalam diriku. Aku adalah cucumu, cucu yang selalu ingin
mengatakan bahwa betapa aku menyayangimu kek. Kakek yang menjadi panutanku,
kakek yang selalu menyayangiku. Selamat tinggal kek, semoga kakek tersenyum
bahagia disana, terima kasih untuk segalanya. Sampai jumpa kek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar